Read Time:11 Minute, 42 Second

nubuatan alquran tentang Israel Palestina

Analisa Hazrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad tentang nubuatan Al-Qur’an mengenai masa depan Palestina, seperti yang disebutkan dalam Surah Bani Israil dan Surah al-Anbiya

***

Allah Ta’ala telah menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad [shallallahu ‘alaihi wasallam] sebagai petunjuk bagi umat manusia. Al-Qur’an banyak mengandung nubuatan tentang peristiwa-peristiwa masa depan untuk memperkuat keimanan orang-orang mukmin dan mencerahkan para pencari kebenaran. Salah satu nubuatan tersebut adalah tentang nasib Palestina. Allah Ta’ala berfirman: 

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِى الزَّبُوْرِ مِنْۢ بَعْدِ الذِّكْرِ اَنَّ الْاَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصّٰلِحُوْنَ ۔ اِنَّ فِيْ هٰذَا لَبَلٰغًا لِّقَوْمٍ عٰبِدِيْنَ ۗ ۔ وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ ۔

“Dan sesungguhnya telah Kami tulis dalam Kitab Zabur, sesudah pemberi nasihat itu, bahwa negeri itu akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh. Sesungguhnya dalam hal ini ada suatu amanat bagi kaum yang beribadah. Dan tidaklah Kami mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam. (Surah al-Anbiya [21]:106-108)

Dalam Tafsir Kabir, Hazrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, Khalifatul Masih II (ra) membahas ayat ini secara panjang lebar. 

Hazrat Muslih Mau’ud menjelaskan bahwa Allah Ta’ala berfirman dalam ayat-ayat ini bahwa setelah beberapa nasihat dalam kitab Mazmur, Allah menyatakan bahwa pewaris Tanah Suci adalah hamba-hamba-Nya yang saleh. Dalam ayat ini disebutkan pesan bagi orang-orang yang sungguh-sungguh beribadah kepada-Nya. Dan Allah telah mengutus Nabi Muhammad (saw) sebagai rahmat bagi semesta alam. 

Nubuat Alkitab yang dimaksud di atas berbunyi, “Orang-orang benar akan mewarisi negeri dan tinggal di sana senantiasa.” (Mazmur 37: 29). Namun, kita jangan sampai salah kaprah dengan dominasi [sementara] bangsa Israel di Tanah Suci, yakni Palestina, karena nubuatan ini juga menunjukkan bahwa jika ada kesempatan, maka hamba-hamba Allah yang saleh yang akan kembali menang atas negeri ini. 

Jadi, Allah menyampaikan pesan ini kepada umat Islam bahwa akan ada masa ketika bangsa Israel akan menguasai Tanah Suci. Kata ‘abidin’ [orang-orang yang menyembah Allah] digunakan di sini untuk merujuk pada nubuatan Nabi Daud [as] dalam kitab Mazmur. Allah berpesan kepada umat Islam supaya berhati-hati, jika mereka menunjukkan kelemahan dalam menjadi hamba-Nya di suatu masa, maka Allah Ta’ala akan mengembalikan bangsa Israel ke Palestina. Namun, jika umat Islam kembali menjadi penyembah hakiki Allah Ta’ala, mereka akan kembali menang. 

Selain itu, hendaknya, mereka juga harus menyadari bahwa rahmat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak lekang oleh waktu dan zaman nabi Muhammad [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak berakhir dengan kejayaan bangsa Israil atas Palestina. Pada hakikatnya, rahmat Rasulullah saw melampaui segala zaman, yaitu masa sebelum dan sesudah pendudukan bangsa Israil. Oleh karena itu, kita tidak perlu berkecil hati, karena ketika rahmat Ilahi kembali turun, umat Islam akan kembali berjaya di Palestina. (Tafsr Kabir [2023], Vol. 8, hal. 105-106)

Dalam menjelaskan nubuatan Al-Qur’an ini, Hazrat Masih Mau’ud, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad [as] bersabda: 

“Dari ayat ini jelas terlihat bahwa al-Ardh yang mengacu pada tanah Syam [Suriah raya] akan selalu diwarisi oleh orang-orang saleh, dan sampai saat ini menjadi milik umat Islam. 

Allah tidak menggunakan kata “يَمْلِکھَا” [dalam ayat di atas], tetapi menggunakan kata “يَرِثُھَا”. Hal ini menunjukkan bahwa pewaris sejati [Palestina] adalah orang-orang Islam, dan jika suatu saat tanah ini jatuh ke tangan bangsa lain, kepemilikan tersebut akan serupa seperti skenario seorang yang bergadai dimana ia memberikan kendali sementara atas harta bendanya kepada penerima gadai. Inilah keagungan wahyu Ilahi, [dan itu pasti akan terjadi].” (Al Hakam, 10 November 1902, hal. 7)

Berdasarkan tafsir Hazrat Muslih Mau’ud (ra) Tafsir Lima Jilid Al-Qur’an juga menyajikan gambaran umum nubuatan ini. Dalam penjelasan Surah al-Anbiya ayat 106 disebutkan:

“Yang dimaksud dengan الارض (tanah) adalah Palestina. Patut dicatat bahwa para penafsir Kristen sendiri telah menafsirkan kalimat ‘mewarisi tanah’ atau ‘mewarisi bumi’ dalam Mazmur sebagai makna, ‘mewarisi Kanaan, janji dari Tuhan. (Commentary on the Old Testament, diterbitkan oleh The Society for Promoting Christian Knowledge, London, catatan untuk Mzm 37:3,9) 

Referensi kata ‘di dalam Kitab Daud’ mengacu pada Mazmur 37:‌9, 11 , 18, 22 & 29, dimana dinyatakan:

(9) Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN akan mewarisi negeri. (11) Tetapi orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah. (18) TUHAN mengetahui hari-hari orang yang saleh, dan milik pusaka mereka akan tetap selama-lamanya. (22) Sesungguhnya, orang-orang yang diberkati-Nya akan mewarisi negeri, tetapi orang-orang yang dikutuki-Nya akan dilenyapkan. (29) Orang-orang benar akan mewarisi negeri dan tinggal di sana senantiasa.”

Kata الذکر mungkin juga merujuk pada Taurat, Kitab Musa. Terdapat nubuatan dalam Ulangan (31:‌20 & 34:‌4) bahwa Palestina akan diberikan kepada bangsa Israel. 

Sebab Aku akan membawa mereka ke tanah yang Kujanjikan dengan sumpah kepada nenek moyang mereka, yakni tanah yang berlimpah-limpah susu dan madunya; mereka akan makan dan kenyang dan menjadi gemuk, tetapi mereka akan berpaling kepada allah lain dan beribadah kepadanya. Aku ini akan dinista mereka dan perjanjian-Ku akan diingkari mereka… Dan berfirmanlah TUHAN kepadanya: “Inilah negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub; demikian: Kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri itu.’

Kekuasaan bangsa Israel meningkat setelah Nabi Musa [as], dan di masa Nabi Daud [as] dan Nabi Sulaiman [as] kekuasaan mereka terus meluas hingga mencakup negeri-negeri yang jauh dari batas wilayah mereka. Kemudian mereka jatuh pada hari-hari yang jahat. Mereka menjadi orang-orang yang berdosa dan melakukan pelanggaran serta membunuh Nabi-nabi Allah sehingga para musuh Allah menguasai mereka. 

Samaria Pertama ditaklukkan dan dibinasakan oleh bangsa Asiria sekitar tahun 733 SM dan seluruh negeri di utara Israel dicaplok oleh mereka. Kemudian di bawah pemerintahan Fir’aun Necho, orang Mesir menghancurkan Yehuda pada tahun 608 SM dan pukulan terakhir yang paling dahsyat yang menimpa Israel adalah ketika Nebukadnezar, raja Babilonia, menghancurkan Yehuda, membunuh penduduk Yerusalem dan membakar serta meruntuhkan Kuil Sulaiman (Temple of Solomon) hingga rata dengan tanah dan membawa anggota keluarga kerajaan dan para nabi mereka sebagai tawanan. Setelah mengembara di padang gurun selama sekitar satu abad, bangsa Israel dikembalikan ke Yerusalem dan kejayaan mereka yang hilang, dengan perantaraan Cyrus, raja Persia dan penerusnya. 

Mengenai pemulihan ini, keterangan Alkitab berikan memberikan referensi nubuatan dari Nabi Musa [as]:

(1) Maka apabila segala hal ini berlaku atasmu, yakni berkat dan kutuk yang telah kuperhadapkan kepadamu itu, dan engkau menjadi sadar dalam hatimu di tengah-tengah segala bangsa, ke mana TUHAN, Allahmu, menghalau engkau, (2) dan apabila engkau berbalik kepada TUHAN, Allahmu, dan mendengarkan suara-Nya sesuai dengan segala yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, baik engkau maupun anak-anakmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, (3) maka TUHAN, Allahmu, akan memulihkan keadaanmu dan akan menyayangi engkau. Ia akan mengumpulkan engkau kembali dari segala bangsa, ke mana TUHAN, Allahmu, telah menyerakkan engkau… (5) TUHAN, Allahmu, akan membawa engkau masuk ke negeri yang sudah dimiliki nenek moyangmu, dan engkaupun akan memilikinya pula. Ia akan berbuat baik kepadamu dan membuat engkau banyak melebihi nenek moyangmu. (Ulangan, 30:‌1-5)

Sekali lagi, bangsa Isrel kembali jatuh ke dalam dosa dan kejahatan. Mereka menentang dan menganiaya Utusan Tuhan dan cawan kejahatan mereka menjadi penuh ketika mereka menggantung Yesus di tiang salib, nabi besar mereka yang terakhir. Kemudian murka Tuhan menimpa mereka. Gerombolan Romawi di bawah Titus menyerang mereka pada tahun 70 M dan di tengah kengerian yang dahsyat itu, Yerusalem dihancurkan dan Kuil Sulaiman dibakar untuk kedua kalinya. (Encyclopedia Biblica & Jewish Encyclopedia di bawah ‘Jerusalem’). 

Mengenai bencana yang berlipat ganda yang menimpa bangsa Israel ini, surah 17:5-8 dalam Al-Qur’an memberikan rujukan yang jelas. 

Tanah Suci Palestina, tetap berada di tangan umat Kristiani sampai umat Islam menaklukkannya di masa Kekhalifahan Umar [ra], Khalifah Kedua Rasulullah [saw], dan tidak seperti Nebukadnezar dan Titus, beliau memberikan perlakuan yang ramah dan bersahabat kepada penduduk Yerusalem dan menunjukkan pengormatan pada Kuil Sulaiman, sebuah penghomatan yang tiada banding sepanjang sejarah penaklukan. Penaklukan Palestina oleh pasukan Muslim inilah yang secara khusus merujuk pada nubuatan yang terkandung dalam ayat yang dirujuk. 

Paletina tetap berada di bawah kekuasaan Muslim selama kurang lebih 1350 tahun, kecuali dalam masa yang singkat yaitu 92 tahun saat wilayah tersebut berpindah tangan selama perang Salib, sampai pada zaman kita sekarang, melalui rencangan jahat dari kekuatan-kekuatan Kristen yang demokratis, negeri yang bernama Palestina sudah tidak ada lagi, di atas reruntuhannya telah dibangun Negara Israel. 

Orang-orang Yahudi akhirnya sadar setelah mengembara di padang gurun selama sekitar 2000 tahun. Namun peristiwa sejarah yang besar ini juga terjadi sebagai penggenapan nubuatan Al-Qur’an. Umat Islam dibertahu bahwa pada masa Masih Mau’ud [as], kaum Yahudi akan diperintahkan kembali ke Tanah Suci mereka dari ujung bumi (17:105). Namun ini hanya fase sementara. Umat Islam ditakdirkan untuk memenangkannya kembali. Biarlah seluruh dunia tahu bahwa cepat atau lambat – bahkan segera – Palestina akan kembali ke tangan Muslim. Ini adalah ketetapan Ilahi dan tidak seorangpun dapat mengubah ketetapan Tuhan. (Tafsir Lima Volume, Vol. 4, hlm. 2122-24)

Dalam Tafsir Kabir, Hazrat Muslih Mau’ud [ra] menjelaskan bahwa melalui Nabi Musa [as] umat Israel diberitahu tentang dua bencana dan juga diberitahu bahwa kepemilikan mereka atas Palestina tidak akan permanen. Sebaliknya, mereka akan mendudukinya di awal dan kemudian terusir. Setelah beberapa waktu, mereka akan mendudukinya sekali lagi, tetapi sekali lagi mereka kehilangan kekuasaan atasnya. Kata-kata Allah ini tergenapi dengan penuh kemuliaan dan keagungan. Detailnya dapat dipelajari dalam Surah Bani Israil, dimana Allah Ta’ala berfirman: 

وَقَضَيْنَآ اِلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ فِى الْكِتٰبِ لَتُفْسِدُنَّ فِى الْاَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيْرًا ۔ فَاِذَا جَاۤءَ وَعْدُ اُوْلٰىهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَّنَآ اُولِيْ بَأْسٍ شَدِيْدٍ فَجَاسُوْا خِلٰلَ الدِّيَارِۗ وَكَانَ وَعْدًا مَّفْعُوْلًا۔ ثُمَّ رَدَدْنَا لَكُمُ الْكَرَّةَ عَلَيْهِمْ وَاَمْدَدْنٰكُمْ بِاَمْوَالٍ وَّبَنِيْنَ وَجَعَلْنٰكُمْ اَكْثَرَ نَفِيْرًا۔

Dan telah Kami sampaikan dengan jelas kepada Bani Israil dalam kitab itu, “Tentulah kamu akan melakukan kerusakan besar di muka bumi ini dua kali, dan niscaya kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang sangat besar. Maka ketika penggenapan janji yang pertama dari kedua janji itu tiba, Kami bangkitkan untuk menghadapimu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat, dan mereka menerobos jauh ke dalam rumah-rumah, dan itu merupakan suatu janji yang pasti terlaksana. Kemudian Kami kembalikan lagi kepadamu kekuatan untuk melawan mereka, dan Kami bantu kamu dengan harta benda dan anak-anak, dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar dari sebelumnya.” (Surah Bani Israil [17]:5-7)

Dalam Surah Bani Israil ayat 8-9, Allah berfirman: 

فَاِذَا جَاۤءَ وَعْدُ الْاٰخِرَةِ لِيَسٗۤـُٔوْا وُجُوْهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوْهُ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّلِيُتَبِّرُوْا مَا عَلَوْا تَتْبِيْرًا ۔ عَسٰى رَبُّكُمْ اَنْ يَّرْحَمَكُمْۚ وَاِنْ عُدْتُّمْ عُدْنَاۘ وَجَعَلْنَا جَهَنَّمَ لِلْكٰفِرِيْنَ حَصِيْرًا

“Maka bila datang saat sempurnanya janji yang terakhir itu, supaya mereka mendatangkan kesusahan pada pemimpin-pemimpin terhormatmu; dan supaya mereka memasuki masjid seperti mereka pernah memasukinya pertama kali; dan supaya mereka menghancurluluhkan segala yang telah mereka kuasai. Boleh jadi kini Tuhan-mu akan mengasihimu; tetapi jika kamu kembali kepada perbuatan buruk, Kami pun akan kembali menimpakan hukuman; dan ingatlah, Kami telah jadikan Jahannam, penjara bagi orang-orang kafir.”

Jelas dari ayat di atas bahwa tanah Palestina dijanjikan kepada hamba-hamba Allah yang saleh. Karena janji ini pertama kali diberikan kepada orang-orang Yahudi, maka mereka berkuasa atasnya. Namun, selain memberikan tanah ini kepada mereka, Allah Ta’ala juga menetapkan beberapa syarat dan berfirman bahwa setelah beberapa waktu, Dia akan mengambil ini dari mereka disebabkan pelanggaran-pelanggaran dari mereka. (Tafsir Kabir [2023], Vol. 8, hlm. 107-108)

Hazrat Muslih Mau’ud [ra] juga mengklarifikasi bahwa beberapa orang secara keliru mempercayai kemenangan orang-orang Yahudi atas Palestina sebagai akhir dari Islam. Sudut pandang mereka menegaskan hilangnya Palestina oleh umat Islam sebagai bukti bahwa mereka tidak lagi dianggap sebagai ‘hamba yang saleh.’ Padahal, manakala penaklukan yang dilakukan oleh bangsa Babilonia dan Romawi pada masa Musa [as] dan Daud [as] tidak dianggap telah membatalkan hukum mereka, maka tidak masuk akal jika menyebut kekalahan umat Islam sebagai tercerabutnya Islam. 

Oleh karena itu, hilangnya Palestina untuk sementara waktu oleh umat Islam, sesuai dengan nubuatan Al-Qur’an, yang menyatakan bahwa kembalinya bangsa Israel bukan merupakan indikasi pencabutan Islam, melainkan menunjukkan kebenarannya. Konsep ‘hilang sementara’ tanah Palestina jelas sejalan dengan janji Al-Qur’an yang menegaskan bahwa ‘hamba-hamba yang saleh’ akan mewarisi tanah tersebut, dan hal ini jelas bahwa terlepas dari segala upaya yang dilakukan negara-negara global, ketetapan Allah Ta’ala akan tetap berlaku, yaitu menjamin kembalinya umat Islam ke tanah Palestina dan tegaknya pemerintahan merkea. (Ibid., hal. 113)

Sumber: Al-Hakam

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous post Tata Cara Shalat Witir yang Benar
Next post Benarkah Nabi Yahya (as) Dibunuh, Bukankah Para Nabi Dilindungi Allah?